Kamis, 15 Juni 2017 03:45:46
Dilihat sebanyak 1.750 kali

Melirik Bisnis Sarung Gresik di Pekanbaru Riau

Melirik Bisnis Sarung Gresik di Pekanbaru Riau
Klinik UKM & UMKM

Melirik Bisnis Sarung Gresik di Pekanbaru Riau – Perkembangan bisnis UKM di gresik terus menggeliat dan peka seiring perkembangan zaman. Gresik sebagai kota santri juga identik dengan berbagai usaha yang berkaitan dengan perlengkapan muslim. Diantaranya kopiah, kerudung, dan sarung. Salah satu produk yang cukup khas dan mempunyai pasar yang luas adalah sarung gresik.

Sebelas tahun silam, Kholifah tak pernah membayangkan usaha sarung tenunnya bisa sebesar saat ini. Dulu, di tengah mengandung sang putri, dia mengerjakan semua proses produksi hanya dibantu satu orang pekerja. Kholifah dengan tekun melakukan sendiri nyaris semua tahapan dalam produksi sarung tenun: merebus benang, pembidangan, hingga memberi motif.

Tempat produksinya pun belum sementereng sekarang. Dulu hanya ruang sempit nan pengap. “Bahkan kadang-kadang saya mengerjakannya sambil memasak di dapur, sembari mengiris bawang dan menggoreng lauk. Capek sekali rasanya,” ceritanya.

Bisnis Kholifah kini terus membesar. Dia mempekerjakan lebih dari 150 orang di sekitar rumah sekaligus tempat produksinya di kawasam Cerme, Gresik, Jawa Timur. Produksi pada tahun 2001 yang hanya 10 potong sarung per bulan kini mengembang menjadi 500 potong per bulan.

Tempat produksinya sudah sangat luas, sekitar 100 meter persegi dengan jejeran alat tenun bukan mesin (ATBM), ruang khusus perebusan, pengeringan, hingga pemberian motif. Itu belum termasuk pengerjaan yang dilakukan di rumah-rumah warga.

Produk sarung tenun ini menyuplai merek-merek terkenal, bahkan sudah melanglang buana ke sejumlah negara di Timur Tengah. Harga jualnya mencapai Rp 4 juta per kodi. Ada pula yang dipasarkan dengan harga Rp 300.000 per potong.

Sepintas lewat, bisnis Kholifah lempang-lempang saja. Tapi siapa sangka, dia harus bergelimpungan membangun usahanya. “Saya sempat kesulitan pembiayaan untuk beli bahan baku dan bayar pekerja. Pokoknya, awalnya itu susahnya minta ampun,” beber perempuan berjilbab ini.

Beruntung dibantu Program Kemitraan sebuah BUMN di Gresik. Di awal pendirian usaha, di tengah kesulitan modal, Kholifah memberanikan diri mengajukan pinjaman modal sebesar Rp 20 juta. Dana itu pun mengucur ke kantongnya. Hingga kini, Kholifah telah dikucuri pinjaman Program Kemitraan BUMN tersebut sebesar Rp 75 juta.

Bagi pebisnis sarung, beber Kholifah, permodalan menjadi kunci. Sebab, ketika pasar sepi, produksi harus tetap berjalan. Dia tak khawatir karena setiap mendekati puasa dan Lebaran, sarung produksinya pasti ludes. “Kunci bisnis sarung itu harus tetap produksi ketika pasar sepi untuk mempertahankan pekerja. Karena itu, saat produsen lain libur karena pasar sepi, saya tetap ngotot produksi karena yakin menjelang Lebaran pasti permintaan akan sangat besar,” ujarnya. Sumber : gresik.co

About Reza UKM

Web Development at Riau Web Design | Administrator at UKMRIAU | Mimin at KosNgosan | Still Ngenes With Single Status