Ada Empat Penyebab Harga Ayam dan Telur Bergejolak

Ada Empat Penyebab Harga Ayam dan Telur Bergejolak
Berita UKM Nasional Dunia UKM


BisnisRiau, Jakarta Kementerian Perdagangan (Kemendag) membantah jika gejolak harga daging ayam dan telur disebabkan oleh aksi penimbunan.

Saat ini harga daging ayam di Jakarta berada di kisaran Rp 37 ribu per kg, sementara harga telur ayam mencapai Rp 29 ribu per kg.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita menyatakan, secara logika, komoditas lantaran ayam dan telur tidak bisa ditimbun. Hal ini lantaran kedua komoditas tersebut bukan barang yang tahan lama dan membutuhkan biaya untuk menahannya di dalam peternakan atau gudang.

“Sekarang kalau mau menimbun ayam harus dikasih makan, jadi tidak bisa. Secara relatif tidak bisa dilakukan penimbunan, tapi kita lihat secara keseluruhan, kita update posisi itu semua. Kementan akan menyiapkan update kembali evaluasi,” ujar dia di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (16/7/2018).

Dia mengungkapkan, banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan harga daging ayam dan telur ini. Pertama, soal penurunan produktivitas dari ayam akibat penggunaan obat-obatan yang dikurangi.

“Banyak faktor yang bisa mempengaruhi. Bicara mengenai tingkat produktivitas dari ayam itu sendiri, ini juga dilakukan penelitian mulai dinas sampai kementerian, kita sepakat kurangi kadar obat-obatan supaya lebih sehat terutama antibiotik, tapi berisiko pada tingkat kematian dan lain-lain,” kata dia.

Kedua, faktor cuaca ekstrem di sejumlah wilayah yang menjadi sentra peternakan ayam. Hal ini juga mempengaruhi produktivitas dari ayam. “Ada cuaca yang ekstrem. Kita tidak mencari ayam (kambing) hitam. Seperti di Dieng sampai ber-es,” lanjut dia.

Faktor ketiga, yaitu penurunan suplai ke pasaran lantaran ada masa libur Lebaran. Hal ini membuat pasokan ke pasar berkurang sementara permintaan meningkat.

“Kemudian, dari sisi suplai ke pasar terjadi pengurangan yang disebabkan masa libur yang panjang. Ternyata mereka yang bekerja di peternakan ini mau cuti,” ungkap dia.

Keempat, ada dugaan pihak-pihak tertentu menaikkan harga untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Terlebih saat Lebaran lalu.

“Ada potensi menikmati margin keuntungan dari pedagang. Ada dugaan seperti itu. Faktor ini yang terakumulasi sehingga pasokan dan pendistribusian ini relatif terganggu,” ujar dia.

Sumber : liputan6.com