Kenapa Investor Sulit Masuk ke Wilayah Sumatra ?

Kenapa Investor Sulit Masuk ke Wilayah Sumatra ?
Berita UKM Nasional Ekonomi


Bisnis Riau, PADANG – Sektor pariwisata di sebut bisa menjadi roda perekonomian baru bagi wilayah Sumatra Barat (Sumbar). Sayangnya, investor masih kesulitan untuk masuk ke kawasan tersebut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar Endy Dwi Tjahjono mengatakan, sebenarnya ada beberapa proyek yang diunggulkan pemerintah daerah Sumbar. Namun hingga kini proyek tersebut belum banyak berkembang. Infrastrukturnya saja baru selesai dibangun akhir 2017.

Endy menjabarkan, salah satu penyebab sulitnya investor masuk karena sebagian besar tanah di Sumbar adalah tanah Ulayat atau adat. Hal ini yang membuat pengambil alihan lahan menjadi sulit.

“Belum ada masuk, kesulitannya karena di sini seluruh daerah dikuasai tanah ulayat. Dan ini nggak bisa dialihkan ke investasi karena ketua adat sangat kekeuh jaga tanah adatnya,” kata dia di Padang, Sabtu (24/2/2018).

Pihaknya mengaku pernah melakukan penelitian dan pendalaman mengenai kesulitan investor masuk ke kawasan Sumbar. Namun faktanya, tetap saja susah menembus para pemangku adat ini.

“Jadi memang sangat sulit. Seperti di Mandeh nyaris seluruh kawasan dimiliki oleh Tanah Adat sehingga susah investor masuk,” lanjutnya.

Tak hanya itu, tanah adat juga belum disertifikatkan dan susah di sertifikatkan. Padahal, lanjut Endy, saat ini wilayah Sumbar membutuhkan sumber ekonomi baru dari sektor pariwisata. Sebab, dia menilai sektor pertanian yang selama ini menjadi andalan sudah tidak bisa dikembangkan lagi.

Keterbatasan lahan menjadi penghambat sektor pertanian di kawasan Sumbar. Mengingat mayoritas lahan di Sumbar adalah daerah perbukitan dan pegunungan.

“Pertanian susah lahannya ga ada perikanan juga seperti itu,” tutur dia.

“Kita harapkan ke depan pariwisata bisa menjadi sumber ekonomi yang baru,” tukas dia.

Sumber : okezone.com


Tentang Muhammad Rifki Elzan

UKM Riau - Portal Media Informasi, Info Peluang Usaha, Bisnis UKM Riau Dan Direktori UKM Pekanbaru Riau Berbasis MEA