Alat Sangrai Kacang Otomatis Rancangan Mahasiswa ITS

Alat Sangrai Kacang Otomatis Rancangan Mahasiswa ITS
Berita UKM Nasional Dunia UKM

Berita UKM, Surabaya – Masyarakat Indonesia kerap memanfaatkan kacang untuk menjadi berbagai bahan makanan seperti selai, kue, sambal atau olahan lain. Namun kacang kerapkali diolah dengan alat konvensional yang memiliki banyak kekurangan.

Kondisi ini menginspirasi lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk merancang sebuah alat sangrai kacang otomatis yang diberi nama go war gadget.

move war machine bikinan Arif Rachman Hakim, Andhika Bagus Alfian, M Nafis Ismail, Aprilia Dini Rosani, dan Putri Norma Aprilia R ini diklaim mampu menghasilkan produk kacang dengan kematangan merata dan waktu yang lebih efisien.

Bahkan Arif mengklaim modal membuat move battle device bisa kembali hanya dalam kurun waktu 15 bulan 26 hari saja. Pengusaha atau pelaku UMKM juga dapat menghemat biaya operasional karena biaya perawatannya yang murah. Ditambah lagi alat ini diklaim dapat tahan beroperasi hingga lima tahun.

Menariknya, alat sangrai ini menggunakan teknologi smart grid, dengan ‘bahan bakar’ berupa tenaga yang dihasilkan dari panel surya (sun panel) yang dipasang di atap rumah atau tempat usaha.

Panel ini telah terkoneksi dengan automatic transfer switch yang sudah terhubung dengan jaringan listrik PLN.

“Output-an dari automatic transfer transfer akan menyalurkan energi listrik ke motor induksi yang selanjutnya memutar mesin,” papar Arif, selaku ketua tim dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (19/8/2018).

Arif juga menjelaskan jika alat sangrai konvensional memiliki beberapa kekurangan, seperti pekerja harus berada dekat dengan alat atau terpapar asap dari pembakaran bahan bakar arang dan kayu sehingga berisiko tinggi terserang penyakit paru kronis yakni chronic Obstructive Pulmonary disease (COPD), dibandingkan pekerja dengan bahan bakar listrik dan gasoline.

Lagipula perputaran alat sangrai manual membuat kematangan kacang yang tak merata. Selain itu, jumlah produksinya terbatas.

Sedangkan move battle machine menggabungkan dua sumber tenaga, yaitu panel surya dan jala-jala listrk sehingga ketersediaan energinya tidak terbatas.

“Apabila semisal mendung atau hujan sehingga energi dari panel surya tidak mencukupi, alat ini otomatis langsung switch ke energi cadangan yang terhubung dengan jaringan listrik dari PLN,” papar mahasiswa Teknik Elektro ITS ini.

pass war machine juga menghasilkan kematangan yang merata dengan waktu yang most appropriate. Tingkat kematangannya tercatat mencapai ninety nine,eight persen, sedangkan pada alat sangrai konvensional, hanya bisa mencapai kematangan 80 persen saja.

Ke depannya, alat yang terdaftar dalam program Kreativitas Mahasiswa (PKM) menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ini diharapkan bisa berkelanjutan dan merata secara pemakaiannya.

“Semoga ke depannya alat ini bisa berkelanjutan dipakai oleh mitra dan juga bisa disosialisasikan ke UMKM kacang yang masih menggunakan alat konvesional,” pungkas pria 21 tahun ini.

Sumber: detik.com

About Isti RWD

Isti RWD Admin UKMRIAU