Rabu, 22 Mei 2019 11:26:00
Dilihat sebanyak 640 kali

Etika Persahabatan Menurut Imam Junaid Al-Baghdadi

Etika Persahabatan Menurut Imam Junaid Al-Baghdadi
Ramadhan

Ada beberapa poin yang dapat diambil dari dawuh-dawuhnya Imam Junaid tentang etika persahabatan. Sekurangnya ada sembilan etika:

Pertama, izin persahabatan. Tidak nyelonong pergi tanpa izin. Sebagaimana Nabi Musa yang mula-mula memohon izin kepada Nabi Khidir untuk menjadi karibnya. Etika ini tidak hanya berlaku bagi guru-murid, melainkan berlaku bagi sesama sahabat. Nabi Musa meminta izin untuk membersamai Nabi Khidir, lalu Nabi Khidir mengizinkan dengan syarat; tidak banyak bertanya. Pada saat Nabi Musa bertanya (memprotes) tindakan yang dilakukan oleh Nabi Khidir, maka Nabi Khidir meninggalkan Nabi Musa. Dan, demikian juga bila kita menemukan sahabat yang sering kali tidak seirama maka sudah selayaknya untuk meninggalkannya.

Kedua, kasih sayang; Allah SWT berfirman: “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa dalam persahabatan yang baik adalah menunjukkan adanya kasih sayang.

Ketiga, tidak menjelekkan sahabatnya dengan menunjukkan sesuatu yang tidak disukainya; Imam Junaid berkata: Ketika kamu memiliki sahabat, maka hendaknya janganlah melakukan sesuatu yang dibencinya.Semisal, membuka aibnya

Keempat, murah senyum, tidak cemberut; Menurut Imam Junaid, ketiadaan etika ini (senyuman) dalam persahabatan merupakan tanda adanya penyakit di antara dua orang yang bersahabat;

Kelima, tidak meminta lebih dari apa yang telah diberikan temannya; Penjelasan etika ini bisa diperoleh dari kisah Imam Junaid berikut: Dikisahkan bahwa Imam Junaid dan muridnya sedang beriktikaf di dalam masjid. Kemudian datang seorang tamu pelancong/wisatawan. Lalu murid-muridnya mempersilakan tamu dan menjamunya dengan hidangan yang ada. Sang tamu berkata: “Aku ingin makanan ini, makanan ini..” Kemudian Imam Junaid berkata, “Pergilah ke pasar, karena engkau orang pasar. Bukan bagian dari kami!

Keenam, mengajak makan bersama-sama; Menjamu sahabat dan makan bersamanya merupakan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan para sufi. Abu Thalib Al-Makki berkata, “Ketika Imam Junaid dan Imam Ibn Mubarak hendak makan siang maka keduanya membuka pintu rumahnya sembari mempersilakan sahabat dan tamu-tamunya baik kaya maupun miskin untuk makan bersama.

Ketujuh, tidak menyelesihi sahabatnya; Aplikasi dari etika ini misalnya tidak berpuasa sunnah sendirian. Apabila sahabatnya berbuka maka ikut berbuka. Begitulah yang dilakukan oleh Imam Junaid. Beliau adalah orang yang selalu berpuasa. Akan tetapi ketika sahabatnya datang ke rumahnya dan tidak puasa, maka akan diajak makan bareng. Ia berkata: Pahala membantu sahabat tidak lebih kecil daripada keutamaan puasa sunnah.

Kedelapan, tawaduk; Imam Junaid merupakan salah satu sufi yang paling banyak menunjukkan ketawadukan kepada sahabat dan juga murid-nya. Al-Jariri mengisahkan, “Suatu ketika saya datang ke Makkah, saya bergegas untuk menemui Imam Junaid supaya tidak merepotkannya untuk datang kepadaku, lalu aku pamit untuk pulang ke rumah. Paginya saya salat Subuh di Masjid, aku terkejut melihat Imam Junaid berada di Shaf belakangku. Lalu aku berkata, “Kemarin sore aku mendatangimu agar supaya engkau tidak bersusah payah menemuiku, lalu beliau menjawab, “(kemarin) itu keutamaanmu dan (sekarang) ini hakmu”.

Kesembilan, humoris; Banyak kisah humor yang bisa kita dapatkan dari Imam Junaid, salah satunya diceritakan oleh Sufi Abu Thalib Al-Makki berikut: Telah menceritakan kepada kami sejumlah guru sufi. Suatau ketika Imam Junaid melakukan sebuah perjalanan bersama para muridnya. Beliau terkadang membuat guyonan yang membuat kami semua tersenyum dan tertawa.

Sumber : islami.co

About Yusdi UKM

UKM Riau - Portal Media Informasi, Info Peluang Usaha, Bisnis UKM Riau Dan Direktori UKM Pekanbaru Riau Berbasis MEA