Sabtu, 24 Agustus 2019 11:52:44
Dilihat sebanyak 658 kali

Kisah inspiratif bisnis seblak

Kisah inspiratif bisnis seblak
Inspirasi Bisnis

Usaha ini bahkan sempat diminati sejumlah artis, sebut saja Mulan Jameela yang sempat jualan seblak ceker pedas menyayat hati khusus teman-temannya. Bisnis serupa juga dijalani Dara The Virgin. Bedanya, Dara membuka bisnis kulinernya itu di Bali.

Cemilan khas Sunda ini mirip dengan makanan bernama Sumpiuh, dan Krupuk Godog yang sudah populer di Jawa Tengah sejak 1940-an. Teksturnya kenyal, dan nikmat disantap kala panas dan pedas. Sementara seblak, baru populer sekitar tahun 2000-an. Menurut Wikipedia, Seblak juga sudah ada di Cianjur bagian selatan sejak dari zaman sebelum kemerdekaan. Konon, makanan ini adalah makanan alternatif kaum masyarakat ekonomi lemah sebagai pengganti jajanan.

Banyak orang beranggapan bahwa seblak hanyalah kerupuk kuning yang dimasak dengan cita rasa pedas. Padahal, seblak sendiri merupakan nama bumbu yang terbuat dari kencur atau cikur dalam bahasa Sunda. Sedangkan kerupuknya adalah topingnya.

Menurut info yang diperoleh, seblak terbagi dua jenis, yakni basah dan kering. Seblak basah bertekstur kenyal, pedas, dan lengket. Seblak basah kerap dimasak dengan beragam campuran, misalnya, sayuran, daging, telur, atau apa pun sesuai kreasi dan selera koki.

Seiring dengan meningkatnya konsumen, tak sedikit pelaku usaha yang mencoba berbagai variasi tambahan, di antaranya seblak ceker, seblak tulang, seblak makaroni, dan seblak cilok. Bahkan, ada warung yang menjual masakan ini dengan mengaplikasikan level pedas pada seblak buatannya, konsumen bisa memilih sesuai dengan selera mereka, dari yang pedas bisa hingga level ekstra sangat pedas.

Kebanyakan pengusaha memasarkan seblak dalam kondisi “dadakan”, yaitu seblak dimasak di tempat dalam kondisi basah dan disajikan selagi hangat. Teknik “repot” tersebut juga dilakukan Ratih Rianti dan Sopi Sopiah. Dua sahabat tersebut ingin menyuguhkan seblak dengan sajian berbeda, yakni dalam bentuk seblak kering.

Belum genap setahun, mereka mampu menimba laba dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas produk.

Modal cuma Rp 100 ribu

Ide itu berawal saat Ratih masih menjadi pekerja swasta di Ibu Kota yang tergoda mencicipi dunia bisnis. Ia meninggalkan pekerjaannya di Jakarta dan kembali ke kampung halamannya di kawasan Padalarang, Bandung Barat, dan memulai usaha seblak pada 11 Agustus 2015.

Sahabat sekaligus tetangganya, Sopi Sopiah, menjadi partner bisnis, utamanya di bidang produksi. Mereka memilih seblak karena sudah akrab di telinga orang Sunda.

Dalam usahanya, mereka pun mencari peluang kepraktisan dengan tidak membuat seblak basah. “Sopi itu sudah ahli membuat seblak basah dan kering, dulu waktu masih berkuliah, dia juga sempat berjualan seblak hasil buatannya sendiri,” ujar Ratih sebagaimana dilansir Republika.

Keduanya merintis bisnis seblak dengan modal minimal, yakni masing-masing iuran Rp 100 ribu. Uang yang terkumpul dibelanjakan bahan baku seblak, yakni kerupuk mentah lengkap dengan ragam bumbunya. Mereka juga menyediakan alat produksi, seperti plastik kemasan, timbangan, dan mesin pres.

Nama brand produk tak muluk-muluk. Seblak SR berarti seblak milik Sopi dan Ratih. Seblak disajikan dalam dua pilihan rasa, yakni asin dan lada alias pedas, Sinda, dan Misda alias amis (manis) dan lada.

Promosi produk mula-mula ditujukan pada teman-teman terdekat, kebanyakan teman semasa di kampus juga teman-teman keluarga dekat. Sambutan mereka hangat, kebanyakan karena memang kangen dengan seblak buatan Sopi ketika di kampus dulu. Menurut mereka, rasa seblak berbeda dari yang di pasaran dan pedasnya cocok dengan lidah mereka.

Menyadari kawasan Padalarang sebagai salah satu pusat industri, Ratih mempromosikan seblak kepada karyawan pabrik. Hasilnya, dari mulut ke mulut Seblak SR populer dan menjadi camilan wajib para karyawan.

Ratih juga memperluas pemasaran via media sosial. Ia menawarkan kepada teman-teman kerjanya dulu di Jakarta, juga berpromosi di media sosial milik akun pribadi keduanya.

Perputaran modal terus berkembang dari produksi awal yang tadinya hanya 30 bungkus, menjadi 50 bungkus, kemudian hingga 100 bungkus per pekan. Jika pesanan tengah ramai, produksi bahkan bisa mencapai 500 bungkus. Hingga kini, omzet yang diraup rata-rata per pekan, yakni Rp 800 ribu.

Lain Seblak SR, lain pula Seblak Mangkelno di Menganti, Surabaya, Jawa Timur besutan Ahmad Muflikun. Dalam sehari, omzet yang diperoleh mencapai Rp 580.000. Itu sudah dipotong biaya bahan baku dan operasional, laba bersih mitra 50% dari omzet.

Berdasarkan perhitungan Ahmad, waktu balik modal yang dibutuhkan mitra hanya sekitar delapan bulan. Dengan catatan, setiap hari mitra bisa menjual sekitar 50 porsi seblak.

Kini, Ahmad sudah menambah tiga gerai baru. Dia mengaku, gerainya laris lantaran belum ada menu seblak di kota pahlawan ini. “Jadi, seperti menu baru. Apalagi, rasa penasaran orang Surabaya tinggi,” katanya sebagaimana dilansir Kontan.

Menyesuaikan lidah lokal

Untuk menyesuaikan rasa seblak dengan lidah lokal, Ahmad menggunakan kencur bubuk. Ia menyajikan empat level kepedasan, yakni pedas semriwing, pedas ajah, pedas super dan pedas super duper. Setiap menu ada taburan wajib, berupa sosis, telur dan bakso.

Menu seblak sendiri terdiri dari dua, seblak mie dan seblak siomay. Agar tak bosan, Ahmad juga menawarkan menu lainnya, seperti mie mangkelno. Harga jualnya Rp 12.000 sampai Rp 18.000 per porsi.

Sudah mendapatkan respons positif, Seblak Mangkelno bakal meluncurkan kemitraan usaha. Ahmad mengemas dua paket kemitraan gerai. Pertama, paket full operation dengan modal Rp 5 juta dengan fasilitas booth, perlengkapan memasak dan bahan baku awal. Karena dioperasikan oleh pusat, maka mitra akan mendapat bagi hasil keuntungan sebesar 70%.
Kedua, paket seharga Rp 20 juta. Dengan modal tersebut, fasilitas yang didapatkan mitra adalah booth, bahan baku awal sebanyak 200 porsi, pelatihan dan peralatan dan perlengkapan memasak.

Untuk paket ini, mitra yang menjalankan usahanya sendiri. Sedangkan, untuk bahan bakunya wajib diambil dari pusat.

Untuk tahun ini, Ahmad masih belum mau memasang target mitra karena penawarannya masih terhitung baru. Dan, untuk mendapatkan konsumen dia banyak menggunakan media digital sebagai alat promosi.

Sehari bisa dapat Rp 18-20 juta dari seblak Jeletet

Seblak Jeletet yang dijual di Jalan Pademangan IV, Jakarta Utara itu sangat ramai. Ruko yang cukup sempit membuat pembeli mesti nunggu di luar. Bukan hanya menunggu seblaknya, namun pembeli juga menunggu tempat duduk.

Makanan dengan variasi isi seperti bakso, makaroni, ceker, mi, tulang ayam, dan telor itu menjadi hits karena kuah sambal yang ditawarkan sangat pedas. Seblak ini memiliki tingkatan pedas dari level 0-5. Menariknya sambal yang ditaburkan bukan menggunakan sendok makan melainkan dengan centong. Jadi untuk pembeli yang memesan seblak level satu, sambalnya satu centong. Level dua, dua centong dan seterusnya.

Pemilik warung, Murni Sari (34) mengisahkan, ia memilih usaha seblak lantaran sekitar 2013 makanan tersebut belum banyak yang jual. Dia berinisiatif untuk membuka membuka usaha rumahan.

Agar berbeda dengan lainnya, Murni mencoba dengan berani menyajikan denah tingkatan pedas. Mulanya menjajakan seblak hanya untuk dibawa pulang atau tidak makan di tempat. Namun semakin banyak pesanan akhirnya menyewa tempat di bilangan Jakarta Utara.

Murni menuturkan, asal nama Jeletet itu pemberian dari orangtua angkatnya. Apalagi saat itu tengah musim tahu jeletot. Tapi dia berpikir tidak mungkin memberi nama jeletot karena itu sudah diklaim orang.

“Jeletet itu pedesnya ngagetin dan nagih-nagih,” ujarnya pada Maret 2017 lalu.

Dalam sehari, seblak Jeletet menghabiskan sekitar 15-20 kg cabai. Murni pun tak menaikkan harga seblak meski harga cabai saat ini mahal. Satu mangkuk seblak minimal tiga item semisal bakso, makaroni dan ceker. Per item itu dibanderol antara Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu.

Murni seperti dilansir Merdeka, mengaku sengaja memberikan kuah pada seblaknya agar bisa dinikmati dengan kerupuk. Selain itu berkuah supaya beda dengan seblak pada umumnya. Ibu beranak tiga itu meyakini tak ada bumbu rahasia dalam seblaknya. Dia memastikan perbedaannya hanya terletak pada pedasnya.

Dalam sehari omset yang dikantongi cukup tinggi. “Perhari sekitar Rp 18-20 juta,” ungkapnya.

Dirinya tak menyangka omzetnya bakal tinggi. Sebab jika ingat dulu, sehari hanya membawa uang Rp 27 ribu. Ramainya penikmat seblak Jeletet membuat Murni akan membuka cabang pertama di wilayah Grogol. Dia pun mengatakan bahwa pelanggannya tidak hanya dari Jabodetabek, melainkan banyak yang datang dari luar kota seperti Lampung, Medan, Yogyakarta.

Terkenalnya seblak Jeletet Murni tidak lepas dari bantuan media sosial. Dia dibantu dengan saudaranya rajin memposting seblak Jeletet di Instagram. Dari situ banyak pembeli penasaran dan ramai berdatangan.

Murni kini memiliki karyawan 11 orang. Padahal kata dia, dulu hanya dibantu oleh sang suami. Satu orang karyawan digaji Rp 2,5 juta per bulan netto.

Lantaran banyak peminat, seblak Jeletet ini buka setiap hari mulai pukul 14.30 WIB – 21.30 WIB. Jika libur Murni akan mengumumkan di IG. Libur seblak Jeletet sesuai permintaan para karyawannya.

Di balik hitsnya seblak Jeletet, ada beberapa pengunjung sampai pingsan karena pedasnya makanan itu. Menurut Murni, mereka memesan seblak level 5 dengan kondisi perut kosong. Oleh karena itu, Murni menyarankan untuk memesan level 2 bagi pecinta pedas yang baru pertama kali mencoba seblaknya.

Sumber :

About Yusdi UKM

UKM Riau - Portal Media Informasi, Info Peluang Usaha, Bisnis UKM Riau Dan Direktori UKM Pekanbaru Riau Berbasis MEA