Jumat, 7 Juli 2017 03:27:59
Dilihat sebanyak 2.045 kali

Inspirasi Bisnis Bakpia Mangkok Pekanbaru Riau

Inspirasi Bisnis Bakpia Mangkok Pekanbaru Riau
Inspirasi Bisnis

Inspirasi Bisnis Bakpia Mangkok Pekanbaru Riau – Saat mengunjungi Kota Malang, biasanya para wisatawan mencari keripik tempe sebagai buah tangan. Tetapi sebenarnya, ada satu lagi oleh-oleh khas Malang yang juga terkenal, yaitu Bakpia Mangkok.

Bisnis oleh-oleh khas Malang ini dijalankan secara turun temurun sejak tahun 1980. Bisnis ini dibangun oleh Zabur Utomo. Kini bisnis bakpia mangkok sudah memasuki generasi ketiga. Adalah Reza Setiawan, cucu dari Zabur Utomo yang sejak 2011 diberikan kepercayaan oleh sang kakek untuk memimpin bisnis kuliner tersebut. Bergabungnya laki-laki berusia 31 tahun ini memberikan hawa segar bagi perusahaan. Pasalnya, banyak perubahan yang dilakukan mulai dari teknologi sampai branding.

Bisnis bakpia mangkok pun terus berkembang. Salah satu inovasi yang dilakukan Reza adalah dengan menambahkan varian rasa bakpia. Awalnya bakpia mangkok hanya tersedia dalam satu rasa yaitu original atau kacang hijau. Kini bakpia mangkok sudah bisa dinikmati dalam lima rasa yaitu, kacang hijau, tangkue, durian, coklat dan keju.

Rencananya, dalam waktu dekat akan ada satu lagi tambahan rasa baru, yakni bakpia mangkok rasa kopi. Harga bakpia ini sekitar Rp 9.000 – Rp 12.000 per bungkus berisi lima buah bakpia. Selain itu, bakpia mangkok juga dijual dengan dengan kemasan lain yaitu dus kecil isi 12 buah yang dijual Rp 25.000 dan dus besar berisi 25 buah dijual Rp 52.000.

Saat ini outlet Bakpia Mangkok tersebar di tiga lokasi di Semarang yaitu di Jalan Semeru, Jl. Sukarno Hatta dan daerah Tidar. Bakpia Mangkok juga mempunyai satu outlet yang berada di Bandung dan Bali. Selain itu, Bakpia Mangkok juga dijual dibeberapa toko oleh-oleh seperti Avia dan toko oleh-oleh Sensa.

Reza mengungkapkan, di setiap outlet Bakpia Mangkok selalu memiliki ruang produksi. Tujuannya, agar ia bisa menyajikan bakpia yang fresh from the oven bagi para pelanggan.
Dalam satu hari, produksi Bakpia Mangkok mencapai 7.000 bungkus untuk wilayah Malang. “Semua itu habis dalam satu hari,” ujar Reza. Untuk memproduksi bakpia, di ketiga outlet tersebut, Reza dibantu oleh sekitar 120 karyawan.

Pada awal Bakpia Mangkok berdiri, jumlah produksi baru sekitar 40 bungkus dan hanya pasarkan di sekitar rumah mereka yang berada di Jalan Taman Selamet, Kota Malang.
Pelanggan Bakpia Mangkok tidak hanya lokal tetapi juga para wisatawan internasional. Jadi jangan heran bila akhir pekan dan musim libur tiba seluruh outlet mereka selalu dipenuhi pembeli. Tidak jarang Reza juga menerima pesanan dari luar negeri seperti, orang dari Amerika Serikat (AS) dan Belanda.

Khusus untuk outlet yang berada di Jalan Sukarno Hatta, Malang, Bakpia Ma ngkok melayani pesanan via telepon. Tentunya untuk daerah sekitar outlet saja.
Jumlah pembeli yang kerap membludak membuat omzet bisnis Bakpia Mangkok yang dijalankan laki-laki lajang ini melesat bak roket. Ia mengaku, dalam sebulan bisa mengantongi omzet hingga Rp 3 miliar. Dan yang luar biasa, laba bersih bisa mencapai 100% dari biaya produksi. “Saya optimistis bisnis keluarga ini akan menjadi lebih besar,” ujar dia.

Reza Setiawan mengawali kariernya memimpin Bakpia Mangkok di usia 27 tahun. Laki-laki penggemar olaraga bulu tangkis ini bercerita, sang ayah sangat berharap bisnis bakpia yang telah dirintis ini bisa terus eksis. Dia bercerita, dulu, sang kakek memulai berjualan bakpia berkeliling kampung pada 1959. Oleh karena itu, Reza sebagai generasi ketiga memiliki tugas untuk terus menjalankan bisnis keluarga ini.

Setelah menyelesaikan kuliah di Bandung, ia langsung hijrah ke Malang. Reza mengawali kepemimpinannya seiring dengan pembukaan outlet Bakpia Mangkok di Jalan Sukarno Hatta, Malang.

Menjalankan bisnis ini bukanlah pengalaman pertama bagi Reza. Saat dia masih duduk di bangku kuliah, Reza sudah mencoba membuka usaha Bakpia Mangkok di Bandung. Menyadari cukup sulit menembus pasar di sana, Reza hanya memproduksi 40 bungkus bakpia untuk pertama kali. “Saya hanya menjualnya di sekitar lingkungan saya,” ujar dia.

Dalam kepemimpinannya, ada beberapa perubahan dan perbaikan yang ia lakukan. Pertama, mengubah sistem pembukuan keuangan. Seiring perkembangan teknologi, Reza mengganti sistem pembukuan konvensional dengan menggunakan aplikasi komputer, agar lebih efisien.

Kedua, melakukan standarisasi ukuran bakpia. Awalnya, tidak ada ukuran baku baik untuk ketebalan, diameter dan berat bakpia, karena cara pembuatannya masih tradisional. Ketiga, melakukan inovasi kemasan untuk branding. Reza mengaku, sempat mendapat penolakan dari sang kakek untuk mengubah tampilan kemasan. Maklum saja, hingga saat ini seluruh keputusan masih harus persetujuan sang kakek.

Waktu dua tahun dihabiskan Reza untuk membuat desain kemasan yang sesuai dengan konsep yang ingin dia bangun, yakni bakpia mangkok yang lebih premium. Ini bertujuan untuk menggeser segmen konsumen Bakpia Mangkok dari kalangan menengah ke bawah menjadi segmen menengah ke atas. Setelah beberapa kali membuat usulan desain, akhirnya sang kakek merestui.

Selain melakukan beberapa perubahan konsep brand dan manajemen internal, Reza juga terus berusaha memperluas jangkauan konsumen Bakpia Mangkok. Salah satu caranya adalah dengan membuat website resmi.

Rencananya website tersebut akan mengakomodir permintaan konsumen yang berada di luar Malang. Pembeli dapat memesan via online. “Saya targetkan sebelum lebaran tahun ini website sudah dapat diakses,” ujar pria penggemar traveling ini.

Sementara untuk penjualan di Malang, ia tidak perlu terlalu banyak melakukan strategi pemasaran tambahan, lantaran brand Bakpia Mangkok sudah cukup kuat di Malang.
Sebagai pebisnis yang sudah cukup berpengalaman di dunia kuliner, hingga saat ini Reza masih belum menemukan kendala berarti yang bisa mengancam keberlangsungan bisnisnya. Namun, melihat ada beberapa pebisnis bakpia yang mulai bermunculan di Malang, membuat Reza tetap terus waspada. “Meskipun rasanya masih kalah jauh dengan Bakpia Mangkok, namun mereka tetaplah menjadi ancaman bagi kita,” kata Reza.

Ingin menjadi raja bakpia di Malang
Sebagai generasi ketiga penerus usaha Bakpia Mangkok, tugas yang diemban Reza Setiawan bukan saja mempertahankan kelangsungan bisnis keluarga ini. Dia juga mengemban tanggungjawab moral untuk membesarkan bisnis yang sudah dirintis kakeknya sejak tahun 1959 tersebut.

Kendati fokus membesarkan usaha, ia belum kepikiran untuk ekspansi ke kota lain. Saat ini, ia justru masih fokus memusatkan penjualan di Kota Malang dan sekitarnya. Reza mengaku, fokusnya saat ini ialah ingin menjadi raja di Malang dan sekitarnya. Tentu, maksudnya, menjadi raja bakpia.

Untuk mewujudkan ambisinya itu, Reza akan menambah kapasitas pabrik bakpia sampai 10.000 bungkus per hari. Sementara, saat ini kapasitas pabrik baru 7.000 bungkus per hari. Penambahan produksi ini akan dilakukan secara bertahap. “Saya targetkan dimulai dalam waktu dekat ini,” ujarnya.

Penambahan kapasitas produksi ini penting untuk memenuhi permintaan konsumen. Ia mengaku, kapasitas saat ini belum mampu melayani seluruh permintaan konsumen. Sebab, biasanya di sore hari, bakpia Mangkok sudah ludes. Apalagi di akhir pekan.

Reza juga punya punya segudang rencana lain untuk mengembangkan usahanya. Di antaranya mengembangkan varian produk dan pembukaan gerai baru. Rencana konkretnya, tahun ini Reza bakal membuka satu outlet Bakpia Mangkok di Singasari Resort, Batu, Malang.
Selain itu, ia juga akan memindahkan outlet lamanya dari Jalan Sukarno- Hatta ke Jalan Sudimoro. Lokasi baru ini lebih dekat dengan pabrik bakpianya. “Kebetulan juga masa kontrak di outlet lama akan habis,” katanya.

Menurut Reza, persaingan bisnis bakpia di Kota Malang saat ini terbilang cukup ketat. Ini terlihat dari banyaknya pemain baru yang bermunculan.
Agar bisa memenangkan persaingan, Reza pun menaruh perhatian besar terhadap kualitas produknya. Salah satunya dilakukan dengan cara menambah varian rasa.

Sebelumnya, Bakpia Mangkok hanya mempunyai lima varian rasa. Baru-baru ini Reza menambah satu varian rasa baru, yaitu bakpia rasa kopi, sehingga ia punya enam varian rasa.
Bukan saja dalam hal rasa, pengembangan produk juga dilakukan dengan memproduksi bakpia mini. Saat ini, ia dan tim manajemen sedang mempersiapkan kemasan yang cocok.

Reza menargetkan, sebelum Lebaran tahun ini, mereka sudah menjual bakpia mini tersebut. Saat ini ia sudah mulai melakukan sosialisasi kepada konsumennya. Caranya dengan menyajikan bakpia mini di outlet-outlet miliknya untuk dicoba oleh konsumen. “Kadang sudah ada juga yang minta dibikinkan untuk bingkisan tunangan,” katanya.

Reza mendapatkan ide membuat bakpia mini setelah melihat bakpia Bandung yang berukuran mini. Ke depan, ia ingin melebarkan sayap bisnisnya di bidang restoran, bisnis yang masih sejalan dengan bisnis bakpia. “Saya akan buka di sebelah outlet bakpia saya,” ucapnya. Sumber: peluangusaha.kontan.co.id

About Reza UKM

Web Development at Riau Web Design | Administrator at UKMRIAU | Mimin at KosNgosan | Still Ngenes With Single Status