Bisnis Usaha Fingerboard Pekanbaru Riau

Bisnis Usaha Fingerboard Pekanbaru Riau
Inspirasi Bisnis


Bisnis Usaha Fingerboard Pekanbaru Riau – Menjalani bisnis yang berawal dari hobi tentu menyenangkan. Pemilik Infected Fingerskate, Firman Syafaat berbagi pengalaman bisnis fingerboard kepada LINIKINI. Omset perbulan yang ia dapatkan sekitar Rp 10jt.

Perjalanan bisnisnya dimulai dari hobi yang ia geluti sejak sekolah. “Dari SMP gue hobi main skateboard. Sampai suatu hari, gue ngerasa udah nggak bisa main lagi, karena bodi gue makin gede,” ujar Firman sambil tertawa.

Akhirnya, Firman pensiun main skateboard. Meski begitu, ia tetap kumpul di komunitas dan membeli barang-barang skateboard. Suatu hari ia menonton tayangan video fingerboard di YouTube. “Dari situ gue tertarik memainkannya, karena nggak jauh beda sama skateboard, cuma ini pake jari. Tahun 2010, gue beli Tech Deck,” ungkapnya.

Setelah asyik main fingerboard, Firman malah penasaran dengan replika atau versi miniatur dari skateboard yang berukuran mini itu. “Apaan sih kecil gitu aja mahal,” katanya dalam hati. Saat itu harga fingerboard buatan lokal sekitar Rp 350rb dan buatan luar bisa mencapai Rp 1jt.

Pria berkacamata ini pun memberanikan diri untuk bikin fingerboard sendiri. “Tahun 2011, gue mulai bisnis ini. Tapi belum berani jual online. Jualnya ke teman-teman aja. Gue ngulik cara pembuatan deck, wheels, dan lainnya. Di awal tahun 2012, gue udah yakin sama produk gue, barulah gue publish dan jual online,” tutur Firman.

Ternyata tidak semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat fingerboard mudah ia dapatkan, “Ada yang harus beli juga di Glodok atau ke Cina langsung. Kayak alas atasnya kami sebut foamtape semacam busa yang saat ini Indonesia nggak ada yang bisa buat, karena manufaktur. Juga ring, baut, dan mur kecilnya.”

Bisnis ini dikerjakan 80% oleh Firman sendiri tanpa merekrut karyawan. Ia bisa menghasilkan 100 deck per 3 bulan. “Kalau bikin deck fingerboard itu sama banget cara pembuatan dan bahannya seperti skateboard. Bahan dasar dari veneer kayu maple, dan dicetak pakai mold yang unik [nggak ada yang sama]. Jadi, nggak mungkin satu brand dengan yang lainnya punya bentuk lekukan yang sama,” paparnya.

Desain fingerboard selalu berubah setiap 3-6 bulan sekali. Sekali produksi, desain selalu baru. “Tipe sih sama kayak skateboard. Ada yang oldskool, dan ada yang confensional, dan banyak ukuran,” kata Firman.

Saat ditanya apa tantangan bisnis fingerboard, Firman menjawab, “Deck pada fingerboard itu ada bentuk lengkungan. Tantangannya harus bisa menyesuaikan sama jari lokal yang notabene pendek. Gimana caranya biar enak dipakai. Selain itu, tantangannya harus siap bersaing dengan brand lain. Gimana caranya brand gue ini spesial di mata konsumen. Gue selalu buat desain terbatas, biar ekslusif.”

Nah, bagi kalian yang tertarik bisnis fingerboard ini, pesan Firman, “Untuk memulai bisnis fingerboard, saran gue mesti suka dulu. Karena dari situ kita bisa mengenal barang yang kita jual. Kita harus eksplorasi supaya konsumen senang. Jadi, brand kita bisa berkembang lebih baik, bukan sekadar jualan, setelah dapat untung hilang. Itu seperti manfaatin keadaan banget. Dan yang terpenting, masuk ke komunitas, mendukung komunitas-komunitas yang ada, memberi sponsor perorangan atau sponsor event,” pungkasnya.


Tentang Reza UKM

Web Development at Riau Web Design | Administrator at UKMRIAU | Mimin at KosNgosan | Still Ngenes With Single Status