Bisnis Itu tentang Rasa Percaya Diri

Bisnis Itu tentang Rasa Percaya Diri
Inspirasi Bisnis

Sebuah rumah makan baru didirikan dan dipromosikan secara jor-joran dan beberapa orang penasaran datang, diskon lima puluh persen ternyata tidak ada manfaatnya sama sekali.

Apa yang diharapkan dari sebuah rumah makan? Pelayanan cepat, masakan ada rasanya dan porsi setidaknya memadai dengan harga, pekerja profesional (apakah terlihat profesional kalau para waiter berkelakar cekikian sementara ada beberapa tamu yang makan? Kasir yang keliru memberi nota).

Satu insting, rumah makan in tidak akan bertahan lama kalau tidak dibenahi. Promosi tidak sesuai, benar tempatnya enak, tetapi ramainya para pekerja yang terdengar berkelakar, sudah sesuatu yang mengganggu, menunggu kasir membuat nota yang ditulis tangan lebih dari lima menit itu sudah mengesalkan, makanan yang dipikir ada rasanya dan terlihat bagus di promosikan, cuma mirip kangkung yang direbus biasa, anyep. Apakah pembeli akan datang lagi ke sana?

Lain lagi inovasi yang kadang kebablasan hanya untuk menarik dan berbeda. Bahkan sudah dimasukkan ke televisi. Karena hobi hunting kuliner lalu mencoba datang ke sana.

Satu insting, apakah rumah makan yang sempat masuk televisi ini akan bertahan? Tidak, promosi hanya promosi. Inovasi baru yang hanya menghasilkan sekali sendok dan berhenti makan.

Sama sekali tidak enak. Saya tidak akan menyalahkan siapa yang membuat inovasi baru itu, tetapi kalau membuat taste makanan jadi amburadul?Asli, saya hanya makan sesendok dua sendok dan sepertinya suami saya juga tidak begitu suka.

Kelapa muda utuh dan dikerok di dalamnya, lalu ditambahi bakso ikan (saya pikir bakso daging, ternyata bakso ikan yang lumayan ada amisnya, dikasih kecap tambah lucu lagi). Benar saja, beberapa bulan kemudian rumah makan inovatif itu tutup.

Sebuah pusat perbelanjaan, baiklah semacam toko besar. Entah berapa tahun, puluhan tahun lalu dibuka di pinggiran. Karena penasaran dan biasalah dolan-dolan. Entah konsep apa yang dipakai, yang jelas kalau saya malah tidak ‘sreg’. Halah..mau belanja atau window shopping saja kok ribet. Ogah ah!

Pertama, anak kecil umur sekian diharap tidak masuk (Come on, terus kalau bapak ibunya masuk toko anaknya mau di mana? Kami pulang dan beberapa orang pulang).

Aturan lainnya kalau mau belanja daftar dulu untuk kartu anggota. Tiga empat menit terbuang untuk bikin kartu anggota dan belum tentu masuk itu untuk belanja banyak. Nggak worthy kayaknya. Begitu masuk, harga masih ditambah pajak dan yah selisih harga dikit kalau tempatnya lebih nyaman milih tempat lain.

Bisnis adalah tentang bagaimana memenuhi apa yang dijanjikan sesuai promosi. Kenapa waralaba makanan cepat (fast food) sangat eksis? Karena standar kepercayaan dipertahankan. Telat menghidangkan misalnya (dulu) dapat hadiah apa (makanya dulu ada jam pasir yang ditaruh di konter).

Mengenai bisnis, integritas yang ada di pebisnis dari kalangan tertentu memang luar biasa. Bayangkan misalnya seorang pemilik toko besar, omsetnya bisa ratusan sehari, dia yang datang sebagai surveyor saat ingin memasang sliding door.

Pemiliknya, yang mengukur di lokasi (karena tukang sudah pulang). Dan begitu dikerjakan oleh tukangnya, benar-benar profesional dan harganya kompetitif hingga pasti order lagi. Mereka benar-benar luar biasa dalam mempertahankan repeating buyer dan new buyer.

Sumber : kompas.com

About Yusdi UKM

UKM Riau - Portal Media Informasi, Info Peluang Usaha, Bisnis UKM Riau Dan Direktori UKM Pekanbaru Riau Berbasis MEA