Perempuan Pegiat UMKM, Sang Tulang Punggung Ekonomi Nasional

Perempuan Pegiat UMKM, Sang Tulang Punggung Ekonomi Nasional
Advertising Dunia UKM Peluang Bisnis

Konsentrasi Dian tampak terbagi. Ibu berusia 31 tahun itu harus mendengarkan fasilitator dari Google womenwill yang menyampaikan materi tentang tantangan berbisnis bagi perempuan sembari mengawasi putrinya yang masih balita.

Si fasilitator, yang juga perempuan, mengingatkan agar peserta yang membawa anak agar tetap menjaga ketenangan di dalam ruangan. Sementara itu, Pipit, 21 tahun, yang datang seorang diri terlihat fokus mencatat hal-hal yang dianggapnya penting.

Meski begitu, kedua perempuan berjilbab itu punya motivasi yang sama. Mereka, dan lebih dari 30 perempuan lainnya, bertujuan untuk belajar mengenai bagaimana caranya membuat bisnis mereka mudah ditemukan di internet. Sedangkan beberapa lainnya masih mencoba memahami mengapa internet penting bagi usaha mereka yang masih kecil.

1. Sebanyak 43 persen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) formal di Indonesia dimiliki oleh perempuan

Perempuan Pegiat UMKM, Sang Tulang Punggung Ekonomi NasionalIDN Times/Rosa Folia

Kelas Google womenwill di Surabaya pada pertengahan Agustus lalu seperti memberikan gambaran bahwa sebenarnya banyak perempuan dari segala usia dan latar belakang memiliki bisnis sendiri—atau setidaknya mempunyai minat. Mereka pun ada keinginan untuk belajar bagaimana menjalankan bisnis dengan benar.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh International Finance Corporation (IFC), setidaknya 43 persen UMKM formal di Indonesia dimiliki oleh perempuan. Bila dipandang secara sekilas, angka tersebut terlihat signifikan. Sayangnya, jika diukur menurut skala, bisnis para perempuan ini masih di kategori kecil.

Kemudian, bila mengambil kelas Google womenwill sebagai sample, data tersebut bisa dikatakan sesuai dengan realita di lapangan. Peserta yang hadir diminta memperkenalkan diri serta usaha apa yang mereka punya. Hampir seluruhnya mengaku memiliki usaha berskala mikro dan kecil di bidang kuliner, busana serta kecantikan.

2. UMKM yang dimiliki oleh perempuan menyumbangkan 9,1 persen kepada Produk Domestik Bruto (PDB)

Perempuan Pegiat UMKM, Sang Tulang Punggung Ekonomi Nasional

Masih banyak orang meremehkan UMKM karena ada asumsi umum bahwa kualitas produk atau jasa yang mereka tawarkan belum memenuhi standar. Ada pula yang sudah tertarik untuk membeli produk UMKM karena kemasan tak menarik.

Padahal secara keseluruhan, menurut survei Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada akhir 2016 lalu, UMKM menyumbangkan 60,34 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 57,84 persen.

Artinya, sebenarnya sektor UMKM ini berkontribusi signifikan dalam menopang perekonomian negara. Sayangnya, para perempuan yang memiliki usaha justru kerap kali tidak menyadari potensi ini. Secara umum, mereka masih sibuk memikirkan bagaimana mencari modal, mengolah produk, hingga memasarkannya.

Kalau mau dibuat mudah, para perempuan ini merupakan CEO alias Chief of Everything. Ini adalah istilah yang sering disebut oleh para fasilitator dari Google womenwill, salah satunya Merlyn Legho yang juga merupakan pengusaha UMKM.

Permainan kata itu merupakan plesetan dari arti CEO sebenarnya yang merupakan Chief Executive Officer di mana seseorang dengan jabatan ini merupakan pemimpin perusahaan yang biasanya tak melakukan mikro manajemen. Sedangkan CEO dalam konteks UMKM justru sebaliknya.

“Kita ini mengerjakan semuanya dari A sampai Z,” ujarnya.

3. Keberadaan UMKM milik perempuan didorong oleh faktor keluarga

Perempuan Pegiat UMKM, Sang Tulang Punggung Ekonomi Nasional

Satu dari sekian alasan mengapa banyak perempuan yang memilih menjadi pengusaha UMKM adalah faktor keluarga. Riset Google dan Kantar/TNS menunjukkan sebanyak 44 persen suami melarang istri mereka untuk bekerja penuh waktu di kantor. Maka tak mengejutkan bila 39 persen dari 299 perempuan yang disurvei mengaku ingin punya usaha sendiri.

Pipit merupakan salah satunya. Perempuan bercadar itu mengaku sekarang membangun usaha depot makanan serta produk minuman kemasan karena dilatarbelakangi pertimbangan masa depan ketika telah bersuami.

“Aku setuju sih sebaiknya perempuan lebih banyak mengurus keluarga, tapi juga tetap punya penghasilan. Ya, dari bisnis di rumah. Waktunya kan lebih fleksibel daripada kerja kantoran,” ucapnya.

Dian yang sudah berkeluarga juga mengaku suaminya memang melarangnya bekerja. Bekas karyawan sebuah perusahaan media di Jawa Timur itu berkata akhirnya “mengundurkan diri sebelum menikah dan memilih membuka usaha sendiri”.

4. Tapi tak jarang juga faktor keluarga menjadi penghambat bagi perempuan

Perempuan Pegiat UMKM, Sang Tulang Punggung Ekonomi Nasional

Walau kian meningkat dari segi jumlah dan potensi, tapi kebanyakan para perempuan yang memiliki usaha masih belum mengembangkannya ke skala menengah, apalagi besar. Penelitian IFC memperlihatkan bahwa dari 43 persen UMKM formal tersebut, 52,9 persen berskala mikro.

Lalu, 50,6 persen di antaranya adalah usaha skala kecil dan 34 persen merupakan usaha menengah. Per 2015, IFC mengestimasi bahwa usaha kecil itu berkontribusi sebesar Rp443 triliun kepada PDB. Untuk usaha menengah sendiri menyumbangkan senilai Rp421 triliun.

Fakta bahwa mayoritas masih berjuang membesarkan bisnis mereka tak hanya dipengaruhi oleh masalah dasar yang dialami semua pebisnis seperti modal, tapi juga tanggung jawab ganda. Perempuan masih diberikan ekspektasi untuk bisa mengerjakan semua urusan rumah tangga.

IFC menemukan “kurangnya kepemilikan properti, pengalaman bisnis sebelumnya, keterbatasan mobilitas dan ketergantungan yang lebih besar pada suami dan keluarga adalah beberapa faktor yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan dari UMKM milik wanita”.

5. Sudah muncul kesadaran dalam diri perempuan bahwa internet berpengaruh terhadap perkembangan UMKM

Perempuan Pegiat UMKM, Sang Tulang Punggung Ekonomi Nasional

Pemilik usaha, tidak peduli seberapa kecil bisnis mereka, sudah wajib memahami bahwa dalam perekonomian digital yang tengah berjalan seperti sekarang ini internet adalah faktor penting. Menurut data JAKPAT Survey per 2015 lalu, 54,68 persen masyarakat Indonesia menggunakan internet.

Kemudian, berdasarkan riset Google, 48 persen perempuan mengaku mengakses internet lebih dari sekali dalam sehari. Mereka tak hanya memanfaatkannya untuk bermain media sosial, tapi juga menjelajahi informasi. Hanya saja, 52 persen dari mereka berkata tak bisa menemukan konten yang dicari di internet.

Konten tersebut salah satunya adalah produk atau jasa tertentu yang mereka butuhkan. Dian mengaku baru menyadari ini setelah mengikuti kelas Gapura Digital milik Google. Ia memiliki sebuah toko listrik yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur, dan telah didaftarkan Google Bisnisku.

“Kalau daftar di Google sudah lama, tapi gak pernah di-update. Ini baru mau mulai perbaiki lagi,” kata Dian. Begitu juga dengan Andin Kurniawan yang menjadi distributor beragam cemilan mulai dari kacang-kacangan hingga rempeyek.

“Langsung cari saja di Google, mbak. Aneka peyek Sidoarjo, gitu. Pasti muncul,” ucap perempuan berumur 34 tahun itu. Ketika dicari, memang usaha milik Andin muncul di urutan pertama. Informasinya pun cukup lengkap termasuk alamat, jam operasi, harga, serta foto produk.

Source :

About Isti RWD

Isti RWD Admin UKMRIAU