Senin, 3 Juli 2017 05:06:25
Dilihat sebanyak 858 kali

Inspirasi Bisnis Kripik Jamur Marrema untuk Pekanbaru Riau

Inspirasi Bisnis Kripik Jamur Marrema untuk Pekanbaru Riau
Dunia UKM

Inspirasi Bisnis Kripik Jamur Marrema untuk Pekanbaru Riau – Bandung, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah yang ramai dengan bisnis kuliner. Namun, Siti Rohayati tidak menyurutkan niatnya untuk memulai bisnis aneka olahan jamur di kota kelahirannya itu. Di tengah persaingan bisnis kuliner yang menjamur, dia konsisten untuk tampil beda. Hasilnya, bisnis olahan jamur miliknya banjir pesanan.

Siti merintis bisnis olahan jamur sejak Desember 2011. Saat itu, bisnis serupa sebenarnya telah menjamur di wilayah Bandung. Namun, dia meyakini usaha yang dirintisnya itu tidak akan ditinggal konsumen.

“Dengan menjaga kualitas, mencipta aneka kreasi jamur terbaru, saya yakin bisnis saya akan terus maju,” kata dia kepada Republika, Selasa (3/3).

Niat berbisnis aneka olahan jamur itu datang karena suami Siti memiliki usaha di bidang budidaya jamur tiram putih di kawasan Cisarua Lembang. Siti menyadari jamur tiram itu memiliki nilai lebih jika diolah. Dia pun meminta bantuan suaminya untuk memasok jamur. Untuk informasi resep olahan jamur, Siti memanfaatkan internet.

Olahan jamur milik Siti ingin tampil beda mulai dari pemilihan bahan. Dia hanya menggunakan bahan segar yang didapat dari usaha suaminya. Kualitasnya pun bisa Siti pesan khusus. Dia memilih jamur berukuran besar sehingga mudah diolah menjadi keripik. Bahan lainnya, seperti minyak goreng, tepung terigu, dan bumbu juga dipilih yang berkualitas tinggi. Menurut Siti, bahan baku yang berkualitas akan memengaruhi hasil olahan jamur.

Modal awal bisnis olahan jamur tersebut hanya Rp 500 ribu yang merupakan tabungan Siti. Uang itu dia belanjakan jamur tiram, tepung terigu, dan beragam bumbu. Dia mempelajari pengolahan hingga pemasaran secara autodidak. Produksi pertama jamur olahan itu hanya empat bungkus seberat masing-masing 250 gram yang dia pasarkan ke tetangga dan rekan.

Pemasaran olahan jamur tersebut menggunakan brand “Marrema”. Kata itu berasal dari hahasa Sunda yang berarti laris manis. Siti mengatakan nama itu dipilih agar menjadi doa sekaligus menggunakan muatan lokal.

Berbisnis olahan jamur, kata Siti, tidak hanya membutuhkan ketekunan. Baginya, memproduksi keripik jamur membutuhkan ketelitian. Dari mulai mencampurkan bumbu, waktu penggorengan dan pengemasan harus dilakukan dengan teliti. Selain itu, bisnis makanan olahan jamur menyaratkan terus berkreasi.

Produksi makanan olahan jamur juga menuntut kesabaran. Untuk memproduksi 15 kilogram keripik jamur, waktu yang diperlukan bisa mencapai 12 jam. Waktu itu termasuk untuk pengemasan. Proses paling lama adalah meniriskan minyak dari jamur setelah digoreng. Proses itu kemudian dilanjutkan ke tahap pembumbuan, penimbangan, dan pengemasan.

Produk lain seperti nugget jamur membutuhkan proses memasak hingga siap jual lebih lama. Untuk memproduksi 20 bungkus atau sekitar lima kilogram nugget membutuhkan waktu hingga dua hari. Sehari untuk pengukusan dan hari kedua untuk penyelesaian yang meliputi pemotongan, pemberian tepung, penggorengan, pendinginan, pengemasan, dan penyimpanan di kulkas.

“Produksi keripik dan nugget tidak bisa sekaligus, biasanya digilir agar tidak repot dan jelas kita menentukan tanggal kedaluarsanya,” tuturnya.

Hasil produksi olahan jamur tersebut dijamin Siti memiliki kualitas yang berbeda dari produk sejenis. Dia berupaya meniriskan minyak dari jamur setelah digoreng secara sempurna. Hal ini akan membuat jamur lebih renyah.

Rasa gurih pada jamur pun tanpa monosodium glutamate (MSG). Rasa gurih itu didapatkan dari rasa dasar jamur yang seperti daging ayam dengan campuran gula, garam, dan rempah lainnya yang proporsional. Siti tidak memberi campuran bahan pengawet buatan maupun pengembang. Hasilnya, produk jamur hasil olahan Siti bisa menjadi pilihan utama bagi mereka yang senang jajan namun tetap peduli kesehatan.

Ada dua jenis olahan jamur yang menjadi kreasi eksklusif Siti, yakni jamur renyah dan nugget jamur. Kedua produk itu dikreasikan menjadi Jamur Crispy, Nugget Jamur Original, Jamur Brokoli, Keju Nugget Jamur dengan Keju dan Udang, Jamur Wortel serta Nugget Lele.

Promosi yang dilakukan Siti hanya dengan cara mulut ke mulut. Karena produknya berbeda, konsumen dari mulai tetangga terdekat hingga konsumen dari berbagai daerah pun melirik produk jamur olahannya.

Satu kemasan keripik jamur seberat 100 gram dijual seharga Rp 13 ribu. Dengan berat yang sama, keripik jamur yang dikemas paper metal dijual dengan harga Rp 15 ribu. Sementara, untuk Nugget Original seberat 250 gram dihagai Rp 15 ribu. Sedangkan, yang nugget dengan bahan campuran brokoli, wortel, udang, dan lele dengan berat yang sama dijual Rp 18 ribu.

Siti mengakui promosi dalam jaringan belum ia lakukan secara gencar. Dia hanya memanfaatkan akun Facebook pribadi dengan nama akun Siti Rohayati untuk pemasaran. Meski promosi belum luas, Siti mengaku bisa mendapatkan pesanan dari luar Bandung, yakni Jakarta, Bangka Belitung, Makassar, Bali, Pekanbaru, Kalimantan, Lampung, dan Palembang.

Meski demikian, tidak semua pesanan luar kota dilayani. Siti mengatakan, waktu pengiriman yang membutuhkan hingga dua hari dihindari untuk menjaga kualitas produk. Pesanan tiap bulan rata-rata mencapai 400-500 bungkus keripik jamur dan 100 bungkus nugget. Dari pesanan ini, Siti bisa meraup omzet empat juta rupiah tiap bulan.

Selang empat tahun menjalani bisnis, Siti mengaku masih merasa kesulitan di bidang produksi, permodalan, dan tenaga kerja. Selama ini, bisnis itu hanya dikerjakan Siti dan suaminya. Siti mengaku dia belum berani merekrut tenaga kerja karena mempertimbangkan pemberian gaji.

Dia juga menyadari bisnis dengan modal besar akan menghasilkan untung besar. Namun, saat ini, Siti mengatakan belum bisa memperbesar modal. Meski demikian, Siti tetap menyukai bisnisnya.

“Kuncinya adalah tetap menjaga semangat dan melakukan keseharian bisnis dengan senang hati,” tuturnya.

Dari hasil kerja kerasnya, Siti mampu membeli peralatan produksi yang berukuran lebih besar. Bahkan, dia bisa membeli kompor dan penggorengan khusus, pendingin, serta alat peniris minyak yang harganya dua juta rupiah. Dalam waktu dekat, Siti juga berencana membuka boots jamur di suatu tempat strategis di kawasan Bandung.

Rencana barunya itu akan digunakan sebagai tempat menjual produk olahan jamur sekaligus menampilkan cara pengolahan kepada konsumen. Ke depan, Siti ingin mengembangkan usahanya dengan mendirikan rumah dan restoran khusus jamur yang menyediakan makanan olahan jamur lebih lengkap. Sumber : republika.co.id

About Reza UKM

Web Development at Riau Web Design | Administrator at UKMRIAU | Mimin at KosNgosan | Still Ngenes With Single Status