Sabtu, 30 Juni 2018 14:41:35
Dilihat sebanyak 960 kali

Industri Berbahan Kulit Indonesia Merabah Ke Internasional

Industri Berbahan Kulit Indonesia Merabah Ke Internasional
Berita UKM Nasional Dunia UKM

BisnisRiau, Sleman – Industri busana berbahan kulit Indonesia telah merambah dunia internasional dan berani bersaing dengan berbagai brand asing. Model dan kualitas yang sangat baik dengan harga sangat kompetitif membuat industri berbahan kulit seperti di Garut, Bandung, Bali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus berkembang.

Sleman, salah satu kabupaten di DIY, adalah salah satu daerah di Indonesia dengan industri busana berbahan kulit yang bisa berbicara hingga Eropa. Industri berbahan kulit di Sleman seperti tas, dompet, ikat pinggang, sepatu, sandal, jaket, hingga sarung tangan rata-rata untuk kepentingan ekspor. Misalnya PT SGI (Sport Glove Indonesia) yang khusus memproduksi sarung tangan kulit ekspor dan M Joint Exlusive Leather Craft yang khusus memproduksi, dompet, tas, sepatu, sandal dan jaket kulit dengan merek Bucini, dengan sasaran ekspor maupun pasar lokal.

Industri kulit rumahan pun banyak tersebar hampir di setiap kecamatan di Sleman. Sama halnya produk kulit lain, produk kulit rumahan di Sleman juga kebanyakan untuk memenuhi pesanan dari luar negeri, meskipun untuk dalam negeri juga melayani.

Pemilik kerajinan kulit Bucini, Rico Yudiasmoro, mengaku memulai usaha kerajinan kulit pada 1997. Awalnya, usaha yang berlokasi di Klodangan, Sendangtirto, Berbah, Sleman, ini tidak langsung memproduksi tas dan sepatu, melainkan dompet kulit dan dipasarkan sendiri. Setelah itu, Rico berani memproduksi sarung tangan kulit. Nah, baru 2011 Rico fokus pada produk tas dan sepatu. Seiring dengan itu Rico memindahkan tempat produksi dan showroom dari Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta, ke Klodangan, Sendangtirto, Berbah, Sleman. “Saat ini kami memiliki 160 karyawan,” ungkapnya.

Menurut Rico, produk tasnya selain untuk pasar dalam negeri, juga lebih banyak dijual ke luar negeri, terutama Eropa. Untuk pemasaran di Eropa sudah ada agen di Belanda.  Penjualannya rata-rata 4.500 tas. Beda dengan tas, sepatu masih untuk konsumsi lokal. Bahan kulit Bucini diambil dari Magetan. Harga tas antara Rp600 ribu hinggaRp2 juta, tergantung besar kecilnya tas.

Untuk produk industri kulit rumahan, salah satunya seperti yang dikembangkan Handayani Putro, warga Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok, Sleman, sejak 2012. Handayani menamai produknya dengan brand Mario Rubini. Sama halnya dengan Bucini, Mario Rubini juga berupa tas, sepatu, topi dan jaket kulit. Bedanya, selain untuk pemasaran dengan merek sendiri, Handayani juga menerima pesanan konsumen tanpa merek. “Biasanya yang pesan perusahaan dengan brand ternama,” tutur Handayani.

Produk-produk dengan merek Mario Rubini juga sudah tembus ke pasar Australia dan Jepang. Sebagai produksi rumahan, omzetnya belum terlalu besar, penjualannya pun rata-rata baru 100 buah. Dompet kulit dengan kualitas premium dijual dengan harga mulai Rp100.000, sedangkan tas kulit seharga Rp400.000.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, secara umum Sleman menyimpan beragam potensi yang masih belum banyak digali dan dikembangkan. Karena itu, Sleman sangat terbuka dan berpotensi bagi pengembangan usaha-usaha kreatif. Hanya saja dalam pengembangan usahanya investor tetap harus bisa memegang komitmen untuk memanfaatkan tenaga kerja lokal. “Diharapkan pemberdayaan masyarakat ini mampu mendukung terwujudnya masyarakat Sleman yang lebih sejahtera,” harapnya.

Bisnis menggiurkan di sektor industri tas kulit juga mengundang artis Chicco Jerikho untuk terlibat di dalamnya. Chicco mengaku sangat mendukung perkembangan produk-produk lokal yang berkualitas tinggi, serta modelnya yang tak ketinggalan zaman. Optimisme pasar tas kulit Indonesia yang semakin meningkat ini, menjadikan Chicco tak berpikir dua kali untuk berinvestasi.

“Sekarang sudah banyak produk lokal yang kualitasnya keren dan harus kita dukung karena kualitasnya tidak kalah dengan produk dari luar negeri,” tutur Chicco kepada KORAN SINDO.

Chicco kini mengembangkan produk lokal berbahan kulit untuk pembuatan beragam sepatu. Berkolaborasi dengan produk alas kaki sepatu asal Bandung, Brodo, kini Chicco memiliki merek CJ Series. Dalam mengembangkan bisnis pemeran Ben dalam film Filosofi Kopi ini ikut memberikan masukan atas desain dan kualitas bahan dari produk tersebut yang sesuai dengan karakternya aktif, kasual, dinamis, dan memberikan kenyamanan pada penggunanya.

“Saya di sini sama Brodo berkolaborasi membuat Brodo yang kodenya CJ Series. Jadi saya bukan brand ambassador. Kebetulan saya suka sepatu nyaman dan enak dipakai. Bisa kasual sampai aktivitas naik motor juga,” katanya.

Menurut Chicco, produk sepatu berbahan kulit sangat kuat dan tidak mudah rusak, sehingga memudahkan perawatan bagi siapa pun yang memilikinya. “Apalagi kalau digunakan bagi para bikers yang setiap hari menggunakan motor. Produk sepatu berbahan leather itu tangguh

banget kalau dipakai naik motor. Biasanya sepatu kalau sering dipakai untuk ganti transmisi motor kan suka rusak bagian atasnya, nah kalau menggunakan bahan kulit itu tidak akan cepat rusak, makanya produk berbahan kulit banyak disukai masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Sumber: Sindonews.com

About Isti RWD