Selasa, 20 Juni 2017 08:38:28
Dilihat sebanyak 2.541 kali

Bisnis Mie Lidi Menguntungkan Pekanbaru Riau

Bisnis Mie Lidi Menguntungkan Pekanbaru Riau
Bisnis Pekanbaru

Peluang Bisnis Mie Lidi di Pekanbaru Riau – Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang melimpah karena terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya. Setiap daerah pasti memiliki satu makanan andalan yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.

Selain makanan ‘berat’, daerah-daerah di Nusantara juga memiliki makanan ‘ringan’ khas yang populer disebut camilan tradisional.

Berbeda dengan makanan utama, camilan biasanya disantap di kala santai. Masyarakat gemar mengonsumsi kuliner ‘ringan’ ini lantaran enak dan harganya murah. Salah satu jenis camilan yang disukain oleh berbagai kalangan adalah keripik yang memiliki cita rasa gurih dan renyah.

Banyaknya jenis camilan tradisional ternyata memberi inspirasi bagi pelaku usaha untuk berbisnis. Berbekal kreativitas dan jeli melihat peluang, para pengusaha membungkus camilan tradisional dengan kemasan modern.

Strategi ini ternyata mampu menaikkan nilai jual bagi makanan tradisional. Alhasil, camilan yang biasanya ada di warung-warung kini mampu bersanding dengan produk-produk ternama.

Salah satu pelaku usaha yang sukses mengubah citra camilan tradisional adalah Famela Nurul Islami. Gadis belia yang baru menginjak usia 22 tahun ini memproduksi camilan khas Jawa Barat, yakni mie nyere atau mie lidi sejak 1 tahun silam.

Alasan Famela terjun ke bisnis ini karena besarnya peluang yang bisa digarap. Menurut dia, masyarakat Indonesia, khususnya anak muda, gemar mengonsumsi makanan ringan di kala senggang.

Selain mencari keuntungan, dia juga memiliki misi tertentu. “Makanan tradisional itu jenisnya sangat banyak dan rasanya enak. Saya ingin memperkenalkan makanan khas daerah dengan cita rasa modern,” ujar pemilik brand Lidi Geli ini.

Famela memproduksi mie lidi. Makanan yang terbuat dari tepung terigu ini sering dijumpai di dekat SD-SD atau warung yang ada di Jawa Barat dan sekitarnya. Cita rasa pedas asin makin klop dengan tekstur mie yang renyah.

Dia mengklaim memulai bisnis dengan modal Rp1 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli mesin pembuat mie lidi dan bahan baku. Untuk produksi, dia bekerja sama dengan salah satu pembuat mie lidi yang berasal dari Garut, Jawa barat.

Agar berbeda dengan mie lidi yang dijual di warung, dia menambahkan rasa-rasa yang membuat konsumen ketagihan. Selain menjual rasa asin dan pedas, dia menawarkan mie lidi rasa keju, sapi panggang (barbeque), jagung manis, dan pedas level dua.

Famela memasarkan mie lidi melalui berbagai strategi. Selain memanfaatkan media sosial, dia juga sering membuka lapak di bazar makanan yang ada di Jakarta dan Bandung. “Mie lidi ini salah satu jajanan di masa kecil yang laris. Banyak konsumen tertarik membeli lantaran ingin bernostalgia,” ujar mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Selain itu, dia juga merekrut agen (reseller) untuk meningkatkan penjualan. Kini,  Lidi Geli sudah memiliki 30 reseller yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Tasikmalaya, Solo, Purwakarta, hingga Palembang.

Famela membanderol Lidi Geli dengan harga Rp10.000 per bungkus dengan isi 100 gram. Dari bisnis ini, omzet yang didapat mencapai Rp55juta dengan margin keuntungan mencapai 50%.

Famela mengaku awalnya dia masih membungkus produk Lidi Geli dengan kemasan sederhana, yaitu plastik transparan. Lantaran ingin membidik kalangan menengah ke atas, dia mengubah kemasan agar produknya bisa ‘naik kelas’.

“Saya membungkus produk Lidi Geli dengan kemasan plastik di bagian dalam dan kardus di bagian luar. Dengan kemasan yang lebih modern, saya berharap makanan tradisional ini bisa bersaing dengan produk-produk asing yang dijual di toko-toko,” ujarnya.

Dibantu seorang rekan,  Famela mendesain kemasan kardus yang unik dan menarik perhatian. Kombinasi warna cerah dan foto produk Lidi Geli di bagian depan membuat tampilan nan elegan. Selain itu, dia juga menyertakan alamat website yang bisa dikunjungi agar konsumen tidak kesulitan jika ingin memesannya kembali.

Berkat tampilan nan modern tersebut, bisnis Famela makin moncer. Dia mengaku awalnya hanya memproduksi 150 kemasan Lidi Geli. Kini, dia mampu menghasilkan 1.000 kemasan tiap minggu atau 4.000 kemasan saban bulan.

Melihat peningkatan ini, dia semakin yakin mampu membawa camilan tradisional ke level yang lebih tinggi. “Target saya saat ini, Lidi Geli bisa masuk toko modern dan bersanding dengan camilan bermerk atau yang berasal dari luar negeri,” tutur Famela.

Soal peluang, Famela menuturkan kesempatan meraih kesuksesan di bisnis ini sangat besar. Hal ini tak lain karena kondisi pasar yang bergairah dan tingginya permintaan konsumen akan camilan yang enak. Sumber : entrepreneur.bisnis.com

About Reza UKM

Web Development at Riau Web Design | Administrator at UKMRIAU | Mimin at KosNgosan | Still Ngenes With Single Status