Rabu, 21 Juni 2017 08:19:20
Dilihat sebanyak 1.828 kali

Bisnis Ikan Sapu-Sapu Pekanbaru Riau

Bisnis Ikan Sapu-Sapu Pekanbaru Riau
Bisnis Pekanbaru

Bisnis Ikan Sapu-Sapu Pekanbaru Riau – Belum banyak orang yang meilirik bisnis budidaya ikan sapu-sapu maupun lobster hias air tawar. Adalah Ari Solahudin pembudidaya ikan hias di Kampung Inunuk Tanjung wangi, Pacet Bandung yang mengembangkan budidaya keduanya sejak 2011 lalu.

”Awalnya saya pembenih lele, lalu pada 2005 mulai beralih ke ikan hias, sejak 2011 mulai fokus mengembangkan budidaya ikan sapu-sapu dan lobster hias air mulai dari pemijahan hingga pembesaran karena peluang pasarnya bagus dan harganya juga tinggi,” tutur Ari mengisahkan perjalanannya.

Permintaan Tinggi
Secara otodidak, Ari mempelajari ikan hias diawali dengan budidaya ikan mas koki dan koi, terus berkembang ke ikan moli, komet, dan saat ini memilih untuk fokus di ikan sapu-sapu dan lobster hias air tawar. ”Ikan sapu-sapu sekilas seperti ikan rendahan sehingga orang kurang tertarik, padahal permintaannya sangat besar karena di setiap akuarium membutuhkan ikan ini sebagai pembersih akuarium,” ungkap Ari.

Ia menginformasikan, saat ini permintaan untuk ikan sapu-sapujenis pleco L144 yang datang padanya mencapai 5.000 ekor per hari. Padahal ia baru mampu memproduksi sekitar 1.000 ekor per minggu. ”Permintaan sangat tinggi cuma barangnya susah, akhirnya saya coba mengajak pembudidaya di sekitar untuk produksi ikan ikan sapu – sapu juga,” tutur Ari.

Saat ini lelaki asli Bandung ini baru memiliki 20 orang plasma yang juga membudidayakan ikan sapu-sapu, namun tetap saja belum mampu memenuhi permintaan yang datang. Ari bersama plasmanya baru mampu memproduksi 3.000 ekor ikan sapu–sapu per minggu yang permintaannya mencapai 35 ribu ekor per minggu atau 5 ribu ekor per hari. Permintaan ikan sapu-sapu yang sangat besar ini menurut Ari sebagian besar untuk diekspor ke Singapura dan Eropa.

Guna menangkap peluang besar ini, ia menambah akuarium dan memperbanyak jumlah plasmanya melalui forum ikan hias Kabupaten Bandung. ”Saya siap untuk membantu memberikan pelatihan memelihara ikan sapu-sapunya sekaligus memfasilitasi akses pasarnya, jadi kalau ada yang tertarik mau jadi plasma intinya harus serius dan mau belajar,” tutur Ari.

Analisa Usaha
Dari hitung-hitungannya, untuk biaya pakan satu akuarium yang berisi 200 ekor ikan sapu-sapu hanya memerlukan biaya pakan sekitar Rp 40 ribu. Padahal harga ikan sapu-sapu jenis pleco L144 yang ia pelihara dihargai Rp 3.000 per ekor. Artinya dalam satu akuarium bisa didapat Rp 600 ribu, padahal untuk biaya pakan dan listrik serta tenaga kerja tidak sampai Rp 200 ribu per akuarium satu siklus.

”Kalau kita hitung biaya produksinya tidak sampai Rp 1.000 per ekor, untuk pakan hanya butuh Rp 200 per ekor, listrik untuk 50 akuarium paling cuma Rp 300 ribu, tenaga kerja satu untuk 50 akuarium,” tutur Ari merinci. Jika satu akuarium bisa memperoleh margin Rp 400 ribu, maka kalau ada 50 akuarium, satu siklus bisa diperoleh margin keuntungan sekitar Rp 20 juta.

Ia mengajak para pembudidaya ikan hias lain untuk ikut membudidayakan ikan sapu-sapu karena pangsa pasarnya yang luas serta margin yang relatif besar. Saat ditanya biaya investasi yang perlu dikeluarkan, menurut Ari investasinya relatif murah cukup akuarium, pompa aerator, dan indukan yang dijual Rp 500 ribu satu paket. ”Kalau mau mulai kecil-kecilan 3 – 4 akuarium modal awal satu dua juta juga cukup, hasilnya lumayan perputarannya cepat hanya 50 hari tapi memang harus telaten tidak bisa asal-asalan,” terang Ari.

Teknis Budidaya
Bagi plasma yang baru memulai, ia menyediakan satu paket indukan ikan sapu – sapuyang terdiri dari satu jantan empat betina. Ari menerangkan, indukan yang ia berikan harus diadaptasikan terlebih dahulu sekitar satu bulan di akuarium baru bisa bertelur.

”Satu pasang indukan bisa memijah dua kali satu bulan, satu kali memijah bisa menghasilkan telur sekitar 300 butir,” terang Ari. Lanjutnya, 300 butir telur yang dipijahkan kemudian dibudidayakan sekitar 40-50 hari untuk mencapai ukuran 1 inch yang siap untuk dijual.

Menurut Ari, rata-rata dari 300 butir telur, tingkat mortalitasnya mencapai 30 %, sehingga satu akuarium yang diisi 300 butir telur rata-rata bisa panen sekitar 200 ekor ikan sapu–sapu ukuran 1 inch dengan satu siklus pemeliharaan. Ia menginformasikan, yang perlu diperhatikan dalam budidaya ikan sapu-sapu yakni kualitas air yang baik.

Ari mengingatkan, untuk menjaga kondisi air agar tetap bagus, setiap hari akuarium harus di sifon dan dikeluarkan kotorannya serta diganti airnya sekitar 10 %. ”Budidaya ikan sapu-sapu perlu perawatan ekstra, harus telaten karena setiap hari harus dibersihkan, selain itu kalau sudah terinfeksi white spot harus segera dipindahkan ke kolam tanah, agar tidak menginfeksi ikan di akuarium yang lain,” ungkap Ari. Dari sisi pakan, pemeliharaan ikan sapu-sapu relatif efisien, karena dalam satu siklus hanya diperlukan pakan 1,5 kg kutu air dan cacing. Sumber : trobos.com

About Reza UKM

Web Development at Riau Web Design | Administrator at UKMRIAU | Mimin at KosNgosan | Still Ngenes With Single Status